LosariSawahan RT 06 / RW 04, Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa. Lingkungan: Veronika, Wilayah: Magdala. Pemberkatan Jenasah : Rabu, 03 Agustus 2022 Pukul: 12.00 Wib. Pemakaman Jenasah : Rabu 03 Agustus 2022, Pukul:13.00 Wib. di makamkan di : Kerkhof ll - Ambarawa. Keluarga yang berduka : Cicilia Endang sudalyani (istri) Anak : Agnes
Peziarahjuga bisa mengikuti misa mingguan setiap Sabtu sore pukul 17.30 dan misa malam Jumat Kliwon pukul 19.00 (Jadwal bisa sesewaktu berubah) maria kereb gua maria kerep ambarawa gua maria lawangsih gua maria lawangsing gua maria lourdes pohsarang gua maria marganingsih gua maria mojosongo solo gua maria pereng gua maria pohsarang gua
GuaMaria KerepAmbarawa juga selalu rutin mengadakan agenda rohani rutin. Misalnya Novena Reguler yang diadakan tiap minggu kedua. Yang mana dimulai pada bulan September sampai Mei. Kemudian ada Perayaan Ekaristi di setiap minggu. Serta Perayaan Hari Besar dan agenda rohani yang lainnya.
MisaPenutupan Tahun Santo Yusup. JagoKomSos.Org - Rabu, 8 Desember 2021, Gereja Katolik Paroki Santo Yusup Ambarawa menghelat 5 acara akbar dalam satu waktu. Misa Penutupan Tahun Santo Yusup, Pengukuhan Paguyuban Devosi Santo Yusup, Pemberkatan Patung Devosi Santo Yusup Tidur, Penyerahan Beasiswa Pendidikan serta Konser Santo Yusup 2021
Salahsatu gereja Katolik terbesar di Jakarta, Katedral menggelar tiga ibadah misa natal yakni misa malam natal, misa hari antal dan misa natal lansia Jumat, 15 Juli 2022 Cari
JadwalPekan Suci Paskah 2015 Gereja Katolik Indonesia (Waktu Setempat) - MARI BERBAGI INFORMASI -KEUSKUPAN BANDUNG, Jakarta Jadwal Misa Pekan Suci Paskah 2015 Gereja Katolik Indonesia. admin | Maret 28, Ambarawa- St. Yusuf. Minggu Palma: Sabtu: 17.00, Minggu: 08.00 (Gua Maria Kerep), 17.00. Kamis Putih: 17.00, 20.00.
zpU8a. Umat Paroki Santo Yusuf Ambarawa sekalian, Misa Pekan Suci kali ini akan berlangsung mulai tanggal 9 April 2022 – 17 April 2022. Pekan suci yang diawali dengan masa Prapaskah setelah perayaan Rabu Abu yang lalu, akan dibuka dengan Perayaan Minggu Palma dan ditutup dengan Perayaan Misa Minggu Paskah tata cara yang masih disesuaiakn dengan masa pandemi Covid-19 saat ini. Namun, perayaan-perayaan Misa Pekan Suci kali ini tetep akan dilaksanakan dengan semeriah mungkin oleh PANITIA PERAYAAN PEKAN SUCI 2022 seperti dapat dilihat jadwal-jadwalnya sebagai berikut Perayaan Misa Minggu Palma kali ini akan dirayakan dengan 6 kali misa di Gereja St. Yusup Ambarawa dan 6 Misa di wilayah- wilayah berkapel. Total penyelenggaraan misa Minggu Palma di Paroki St. Yusuf Ambarawa sekitar 12 misa yang akan dimulai hari Sabtu 9 April 2022 hingga Minggu 10 April 2022. Perayaan Minggu Palma kali ini masih belum diadakan arak-arakan daun palma dari halaman Gereja. Pemberkatan daun palma akan tetap dilakukan di depan Altar oleh Romo dan para petugas liturgi. Jadwal misa Minggu Palma dapat dilihat pada gambar sebagai berikut Catatan Umat dimohon membawa daun Palma sendiri-sendiri, karena Panitia tidak menyediakan daun palma bagi umat. Perayaan Misa kamis Putih kali ini akan dirayakan denga Perayaan 3 misa di Gereja St. Yusuf Ambarawa dan 4 misa di wilayah- wilayah berkapel. Semua perayaan ini akan dilaksanakan pada hari Kamis, 14 April 2022. Perayaan Misa kamis Putih kali ini juga masih tidak dilaksanakan upacara Pembasuhan Kaki Para Rasul dan tidak dilaksanakan juga Tuguran Sakramen Mahakudus untuk menyesuaiakan Prokes masa Pandemi ini. Jadwal- Jadwal perayaan Misa kamis Putih dapat dilihat dalam gambar berikut ini Perayaan Ibadat Jumat Agung kali ini juga masih belum bisa menampilkan Visualisasi Drama Penyaliban Yesus Kristus yang biasa dimainkan oleh kelompok Teater Tawar Ambarawa seperti biasanya. Pada Perayaan Ibadat Jumat Agung ini juga masih ada pembatasan lainnya seperti Upacara Penciuman Salib belum bisa dilakukan sendiri-sendiri melainkan akan dilakukan secara bersama dengan cara umat menunduk pada Salib dari tempat duduk masing-masing seperti pada tahun kemarin. Jadwal Ibadat Jumat Agung yang akan dilaksanakan pada hari Jumat, 15 April 2022 dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut Perayaan Sabtu Paskah atau Malam Paskah mengakhiri ritual Sabtu Suci, yaitu moment dari wafatnya Yesus dan di kuburkan pada Hari Jumat Agung hingga Sabtu malam sebelum kebangkitan Yesus. dalam Ritual Sabtu Suci tersebut, kita diajak merenung bersama akan kisah penyelamatan Yesus yang luar biasa dalam keheningan bersama tubuh Yesus yang sepi dan hening sendiri didalam kubur. Moment Sabtu Suci ini juga adalah moment yang menjembatani Kesedihan kita akan Wafat Yesus pada Jumat Agung kepada kebahagiaan akan Kebangkitan Yesus pada Minggu Paskah. Maka setelah seharian kita berada dalam perenungan dan keheningan, Gereja akan melakukan Perayaan Besar dan Puncak pada Perayaan Sabtu Paskah. Perayaan Sabtu Paskah di Paroki St, Yusuf Ambarawa akan dilaksanakan pada 16 April 2022 denga 3 kali misa di Gereja St. Yusuf Ambarawa dan 4 Misa di wilayah-wilayah berkapel. Perayaan Misa Sabtu Paskah ini juga masih mengacu pada Perayaan Sabtu paskah tahun kemarin yang disesuaikan dengan masa pandemi. Kekhususan yang nampak terutama pada Upacara Cahaya, Lilin paskah tidak akan diarak dari Pintu Utama Gereja melainkan langsung dilakukan Upacara Cahaya di depan altar saja. Namun, Pemberkatan Air Suci masih dilakukan pada perayaan Sabtu Suci ini. Jadwal Misa Sabtu Paskah dapat dilihat dalam gambar berikut ini Perayaan Meriah Minggu Paskah kali ini akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2022 dengan 5 Misa di Gereja St. Yusuf Ambarawa dan 3 Misa di wilayah-wilayah berkapel. Kekhususan Misa Minggu Paskah kali ini yaitu dengan akan dikhususkannya Perayaan Misa pada pukul wib di Gereja St. Yusuf Ambarawa untuk misa bagi anak-anak PIA dan pada pukul wib di Gereja St. Yusuf Ambarawa juga di khususkan bagi Perayaan misa para Lansia. Jadwal misa Minggu Paskah dapat dilihat pada gambar berikut ini Seluruh jadwal misa Pekan Suci ini juga dapat diakses melalui klik disini Lalu bagaimana umat dapat menghadiri Perayaan – Perayaan Misa Pekan Suci ini di Gereja St. Yusuf Ambarawa? Apakah masih ada pembatasan-pembatasan ketat seperti tahun kemarin? Umat Ambarawa sekalian maupun Luar kota yang ingin mengikuti Perayaan Misa Pekan Suci tahun ini, bisa mengikuti dengan cara berikut Seluruh Perayaan Misa Pekan Suci 2022 akan dilaksanakan untuk all wilayah tdak ada pembatasan wilayah untuk misa tertentu, umat boleh memilih jadwal misa, tetapi tetap info ke grup WhatsApp lingkungan untuk kemudian diinfokan melalui form pengajuan kuota yang telah disiapkan oleh litbang paroki, agar kuota / kapasitas gereja tetap umat luar paroki, yang masih berada dalam lingkup Keuskupan Semarang silahkan mendaftar melalui , dimana jadwal permisanya akan disetting H-2. Untuk Umat di luar KAS mohon mempersiapkan aplikasi Peduli Lindungi di HP dari wilayah berkapel yang tidak terjadwal Perayaan Misa Pekan Suci, diperkenankan untuk mengikuti misa di Gereja St Yusuf Ambarawa. Dengan sistem pendaftaran / pengajuan kuota sama dengan umat yang berada di lingkup dalam Gereja St. Yusuf lingkungan diharapkan untuk menerapkan sistem booking kuota dahulu di form pendaftaran, mengingat, seluruh umat di paroki Ambarawa mempunyai hak yang sama untuk dapat mengikuti rangkaian misa Pekan Suci untuk seluruh lingkungan dengan segera membuka pendaftaran umat untuk misa pekan suci, sehingga umat dapat terfasilitasi dengan baik, dan info sisa kuota / kapasitas gereja dapat dipantau melalui Sheets Rekap Misa yang telah disediakan untuk tiap-tiap tema misa, sehingga umat juga dapat memahami, bahwa, umat di satu paroki juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti misa sesuai keinginan Pendaftaran kuota ini lebih menitik beratkan demi kenyamanan dan keamanan Umat sendiri, jadi kami harapkan pengertian dari umat. Selamat mengikuti seluruh rangkaian Perayaan Misa Pekan Suci 2022 dengan aman dan nyaman bagi semua dan kami mengucapkan SELAMAT PASKAH 2022 bagi Romo, Br, Sr, dan seluruh umat Ambarawa dan sekitarnya sekalian. Tuhan Memberkati. Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari Mari bergabung di Grup dan Chanel Telegram “JAGO KOMSOS“, caranya klik link kemudian join. Anda harus menginstall aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Menitipkan Doa di Gua Maria Kerep Ambarawa, Semarang – Sebagai umat Katolik, saya punya misi khusus, yakni mengunjungi gereja atau tempat wisata religi di Indonesia. Hal tersebut saya mulai dengan menjadi “musafir” dan mengembara. Saya senang mengikuti misa atau seenggaknya singgah sebentar di berbagai gereja, dimulai dari kawasan Tangerang dan Jakarta. Jadi, bukan cuma gereja Paroki saya saja. Kemudian, jika sedang berada di luar kota, saya pun menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke gereja atau tempat wisata religi di sana. Kalaupun enggak sempat mampir, wajib hukumnya untuk tahu ada gereja apa saja di kota tersebut. Kali ini, perjalanan saya di Semarang membawa saya hingga Gua Maria Kerep Ambarawa. Bahagianya saya bisa singgah sejenak dan menitipkan doa di sini. Sekilas tentang Gua Maria Kerep Ambarawa Biasanya, peziarah mempersembahkan bunga untuk Bunda Maria di sini. Perjalanan dari Semarang menuju Ambarawa berjarak sekitar 40 km dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Kala itu, saya dan teman seperjalanan saya, Keke, menggunakan jasa rental mobil karena memang ingin sekalian mengeksplorasi tempat-tempat di sana. Sekitar pukul kami sampai di Gua Maria Kerep Ambarawa. Selain digunakan sebagai tempat berdoa, tempat ini juga sering dijadikan tempat ziarah atau menenangkan diri. Baca juga Di Gua Maria Pelindung Segala Bangsa Belinyu yang Sunyi dan Teduh Awal mula berdirinya Gua Maria Kerep ini adalah ketika seorang warga negara Belanda menyumbangkan tanahnya kepada Kongregasi Bruder Para Rasul atau Bruder Apostolik yang mana didirikan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Akan tetapi, kala kongregasi tersebut dibubarkan, tanah tersebut dijadikan kawasan ziarah. Gua Maria Kerep yang didirikan pada 1954 rupanya melibatkan banyak siswa Sekolah Guru Kolese Santo Yusuf dan Sekolah Guru Putri Santa Maria Ambarawa, pada masa awal pembangunannya. Bersama dengan anak-anak asrama Bruderan dan Susteran, mereka membantu membawa batu kali yang berasal dari Sungai Panjang ke atas gua. Kemudian, pada 15 Agustus 1954, Uskup Agung Semarang meresmikan dan memberkati tempat ziarah ini dengan air suci dari Lourdes. Para peziarah juga bisa melakukan Jalan Salib di sini. Oh ya, di Gua Maria Kerep Ambarawa ini, para pengunjung juga bisa melakukan jalan salib. Pada bagian Yesus wafat di kayu salib, disediakan banyak tempat duduk untuk peziarah yang ingin berdoa. Di area tersebut pula terdapat patung Yesus lainnya yang menurut saya sangat indah dan bermakna dalam. Bukan cuma karena ukirannya, yang terdapat Allah Bapa, Roh Kudus, Bunda Maria, Malaikat, serta piala, roti, dan anggur. Coba lihat apa yang ada di belakangnya, deh. Pemandangan langka akan keberagaman. indahnya. Iya, ada masjid. Indah banget, ya? Senangnya bisa menyaksikan keberagaman ini di depan mata. Oh ya, mungkin kamu bertanya-tanya. Itu adalah Masjid Mujahidin Ambarawa yang terletak di Jalan Dr. Cipto, ya. Menyusuri Diorama Kisah Yesus di Taman Doa Patung Yesus Kristus. Ada hal menarik lainnya yang bisa dilakukan pengunjung di Gua Maria Kerep Ambarawa ini. dan pastinya bukan hanya sekadar berdoa atau berziarah saja. Saya menyempatkan diri untuk berkeliling di taman yang menyediakan berbagai diorama kisah Yesus. Senang, rasanya bisa menyaksikan langsung bagaimana peristiwa yang tertulis dalam Perjanjian Baru. Diorama makam Yesus Kristus. Di dalamnya, beneran ada replika makam, tapi saya enggak berani masuk karena gelap. Tentang kebangkitan Yesus Kristus. Misalnya, ada cerita soal Kebangkitan Yesus. Diorama di sini menceritakan bahwa prajurit Romawi yang menjaga makam Yesus, merasakan gempa bumi hebat. Wajah mereka begitu ketakutan tatkala melihat malaikat Tuhan turun dari langit. Di sana, ada diorama makam sungguhan di mana para peziarah bisa masuk ke dalamnya dan berdoa. Di dalam, disediakan tempat untuk menaruh lilin yang bisa dinyalakan sebelum berdoa. Yesus menjala ikan bersama murid-murid pertama-Nya. Diorama berikutnya bercerita soal Yesus yang menjala ikan di Danau Genesaret bersama Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, yang kemudian menjadi murid-murid pertama-Nya. Sebelum Yesus menghampiri, mereka telah bekerja keras menjala ikan semalaman, tetapi hasil yang didapat nihil. Begitu Yesus memerintahkan mereka untuk kembali menebar jala, tangkapan ikan mereka menjadi begitu banyak. Simon Petrus merasa takjub dengan apa yang telah diperbuat Yesus, lalu berkata, ”Aku tidak layak ada di dekatmu, Tuan, karena aku orang berdosa”. Yesus menjawab, ”Jangan takut lagi. Mulai sekarang kamu akan jadi penjala manusia.”​—Lukas 58, 10. Yesus mengubah air menjadi anggur dalam sebuah pernikahan di Kana. Sudah baca lengkap injil Yohanes yang satu ini? Selanjutnya, ada diorama soal mujizat Yesus yang pertama, yakni di mana Ia mengubah air menjadi anggur dalam sebuah perkawinan di Kana. Rupanya, peristiwa ini enggak ada di Injil lain di Alkitab, selain Yohanes. Namun, mujizat ini penting, sebab merupakan salah satu dari tujuh tanda bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Kisah 5 roti dan 2 ikan, masih ingat? Gerimis di kawasan Amabrawa semakin lama semakin deras. Saya berjalan sedikit terburu-buru, sembari berusaha semaksimal mungkin melindungi kamera saya dari tetesan air. Enggak jauh dari diorama sebelumnya, saya menemukan patung-patung ini. Patung ini berkisah soal Yesus yang mengubah 5 roti dan 2 ikan, dan ia memberi makan orang. Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Bukan cuma dengan air, Yesus dibaptis pula dengan Roh Kudus. Diorama selanjutnya yang saya datangi ialah diorama Yesus yang dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Salut banget, benar-benar ada sungainya! Enggak ketinggalan, Roh Kudus yang turun dalam bentuk merpati juga turut dihadirkan pada diorama ini. Nyatanya, Taman Doa ini memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Mungkin, diorama-diorama ini hanya membeberkan beberapa kisah dalam perjalanan hidup Yesus. Namun, semuanya sangat penting dan memiliki makna dalam, khususnya saya sebagai seorang Katolik. Patung Bunda Maria Assumpta, Tertinggi di Asia Tenggara Ini dia daya tarik lain di Gua Maria Kerep Ambarawa ini, yakni Patung Bunda Maria Assumpta. Daya tarik lain yang membuat saya ingin mengunjungi Gua Maria Kerep Ambarawa ialah Patung Bunda Maria Assumpta ini. Patung ini dikerjakan selama kurang lebih 3 tahun, yakni pada 15 Agustus 2014 – 27 April 2017. Patung ini memiliki tinggi 23 meter dengan penopang 19 meter. Jika ditotal, tingginya sekitar 42 meter. Katanya, patung Bunda Maria Assumpta ini diklaim sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara, lho. Patung ini pun merupakan buah karya tiga seniman, yakni RA Nugroho Adi P, RA Hartanto Agung, dan RBA Koencoro BP. Karya yang luar biasa! Baca juga Serunya Snorkeling di Lagoon Cabe, Gunung Krakatau Selesai berkeliling, saya juga mampir ke toko-toko suvenir di sana. Saya membawa pulang salib dan rosario yang bisa menyala dalam gelap. Secara keseluruhan, perjalanan di Gua Maria Kerep Ambarawa sungguh mengesankan. Ah, andai waktu itu enggak hujan. Saya akan meluangkan waktu lebih lama lagi untuk berdoa dan mengucap syukur di sini. Wisata religi seperti ini rasanya selalu berhasil menenangkan hati. Semoga lain kali bisa mampir ke sini lagi. Selamat menyelami batin di Gua Maria Kerep Ambarawa Alamat Jalan Tentara Pelajar, RW. 9, Kerep, Panjang, Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah – 50614 Telepon 0298 592085
Ambarawa, Jateng, ANTARA News - Ribuan umat Katolik mengikuti misa syukur menyambut tahun baru dalam kalender Jawa atau malam 1 Sura 1951 di tempat peziarahan Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang dengan dipimpin Uskup Agung Monsinyur Robertus misa yang diiring lagu-lagu rohani dengan musik karawitan di Semarang, Rabu 20/9 hingga menjelang tengah malam itu, Uskup Agung Semarang Monsinyur Rubi didampingi sejumlah imam, yakni Romo Robertus Saptaka Pr., Romo Ignatius Aria Dewanto dan Romo Ignatius Triatmoko MSF. Tema ibadat malam 1 Sura 1951 atau dalam kaleder Masehi bertepatan dengan 21 September 2017 yang diselenggarakan Komunitas Doa Kami Semarang bekerja sama dengan Pengelola Gua Maria Kerep, Ambarawa itu, adalah "Melalui Budaya Jawa Membangun Peradaban Kasih". "Malam ini kami sebagai orang yang menghidupi budaya Jawa bersyukur karena bisa berkumpul, berterima kasih kepada Allah atas anugerah sepanjang tahun. Tuhan mendampingi kami terus menerus. Malam 1 Sura ini kita memaknai sebagai orang yang menghidupi budaya Jawa, agar bisa menapaki tahun depan dengan suka cita," kata Monsinyur Rubi saat berkhutbah. Ia mengemukakan pentingnya umat Katolik menapaki tahun-tahun ke depan ini dengan semangat baru dan makin kuat dalam beriman kepada Tuhan. Tahun baru identik dengan semangat baru umat untuk mulai menjalani pola kehidupan baru yang lebih baik. "Kebaruan ini cocok dengan perayaan malam tahun baru, Sura. Kita ingin memperbarui diri, hidup menjadi baru, supaya hidup berpadanan dengan panggilan sebagai murid-murid Tuhan," ujarnya. Ia juga mengemukakan pentingnya umat menjalani kehidupan dengan sikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar, serta selalu bersedia membantu orang lain agar terwujud kehidupan bersama yang damai, padu, dan bersatu. Umat Katolik juga didorong uskup yang juga pemimpin gereja Katolik di sebagian wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu, untuk mempererat pergaulan dengan masyarakat sekitarnya. "Orang Katolik harus serawung bergaul dengan tetangga, serawung satu sama lain dan mengupayakan hidup bersama yang padu dan damai. Ora gampang Tidak mudah, red., tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita mampu menjadi pijar-pijar cahaya untuk kedamaian," katanya. Sebelum menutup misa tersebut, Uskup Rubi memberkati air yang telah dikemas dalam ribuan botol ukuran kecil untuk kemudian dibagi-bagikan kepada umat. Setelah perayaan itu, umat bersama-sama menyantap menu khas malam 1 Sura yang dikenal dengan nama "Bubur Sura".Pewarta M. Hari AtmokoEditor Unggul Tri Ratomo COPYRIGHT © ANTARA 2017
Transformasi GMKA Dari Kita Untuk Semua Berdoa di tengah keheningan tak jauh dari pusat kota adalah dambaan setiap umat, dan GMKA menyediakan semua itu. Read more
Sekokoh Batu Penjuru, Setegar Batu Karang Bangunan megah dengan arsitektur khas Negeri Kincir Angin itu masih kokoh, tegar berdiri. Usianya telah lebih dari seabad, namun pesonanya tetap melekat di hati umat. Gereja Jago, demikian umat dan masyarakat Ambarawa lebih mudah menyebutnya. Bukan tanpa alasan kiranya, mengingat gada-gada berbentuk ayam jago yang diletakkan pada bagian puncak menara itu sampai sekarang masih berfungsi dan tak pernah mengeluh diterpa pusaran angin yang rajin bertiup di cekungan Kota Ambarawa dengan perbukitan dan gunung-gunung yang melingkupinya. Menilik sekilas arsitektur bangunannya, Gereja Jago tak lepas dari sejarah panjang kolonialisme Belanda di Persada Bumi Pertiwi ini. Kedatangan Pastor-Pastor Belanda di Tanah Jawa pada abad 19 mengawali proses panjang berdirinya Gereja Katolik Santo Yusup Ambarawa. Bangunan megah tersebut semula diperuntukkan sebagai sarana peribadatan bagi para tentara Belanda yang menduduki area Ambarawa dan sekitar. Seiring pepatnya waktu dalam pergolakan revolusi di negeri ini, tunas-tunas iman masyarakat pribumi mulai bertumbuh dan bermekaran. Sejarah panjang Gereja Katolik Santo Yusup Ambarawa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Jago, tak lepas dari peran para pastor Belanda. Tercatat sejak tahun 1859 hingga masuknya bala tentara Negeri Matahari Terbit di tanah ini, sederet pastor Belanda pernah berkarya di Ambarawa, diantaranya Pastor C. Franssen Pr 1859 – 1861Pastor J. Sanders 1861 – 1862Pastor Joannes F. van der Hagen SJ 1862 – 1868Pastor Joannes de Vries SJ 1868 – 1871Pastor Fransiscus de Bruijn SJ 1872 – 1879, 1881-1900Pastor Joannes Hendrichs SJ 1879 – 1881Pastor Mauritius Timmers SJ 1900 – 1903Pastor Fredericus van Meurs SJ 1904Pastor Cornelius Stiphout SJ 1905Pastor Adrianus van Kalken 1920Pastor Leopoldus van Rijckevorsel SJ 1928 – 1936Pastor Hubertus Snijders SJ +1940Pastor Joannes ten Berge +1940Pastor Josephus Dieben SJ +1940 Secara umum sejarah perkembangan Gereja Katolik di Ambarawa dibagi dalam dua fase, yaitu sebelum resmi menjadi paroki dan setelah resmi menjadi paroki mandiri. Ambarawa Sebagai Stasi Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Imperialis Belanda, turut menjadi pintu masuknya ajaran agama Katolik di negeri ini. Pastor-pastor Belanda didatangkan langsung dari Negeri Kincir Angin guna memenuhi kebutuhan religi serdadu-serdadu Belanda di tanah jajahan, tak terkecuali Indonesia. Misi ataupun tugas perutusan yang awalnya hanya untuk pelayanan orang-orang Belanda, pada akhirnya berkembang dan menyebar hingga ke seluruh pelosok negeri, termasuk di Pulau Jawa. Dengan semakin banyaknya jumlah umat yang harus dilayani dan atas dasar usulan dari Uskup setempat saat itu, maka pada tanggal 2 Agustus 1859 dikeluarkanlah Surat Keputusan dari pemerintah tentang pendirian stasi baru di Ambarawa. Pada mulanya, Stasi Ambarawa berada di bawah pelayanan rohani Paroki Santo Yosep Gedangan, Semarang. Distrik Gereja ataupun stasi yang baru ini Stasi Ambarawa menjangkau hingga daerah-daerah yang terbilang cukup luas, yaitu mulai dari Salatiga, Surakarta, Madiun, dan bahkan hingga sampai Pacitan. Jumlah umat Katolik di seluruh tempat tersebut diperkirakan sebanyak umat. Sebagian besar adalah dari militer Belanda. Sedang pastor pertama yang berkarya di Stasi Ambarawa adalah Pastor C. Franssen Pr. Beliau berkarya selama tiga tahun, yaitu mulai dari tahun 1859 hingga 1861. Pada tanggal 26 Desember 1859, Pastor C. Franssen Pr. membentuk Pengurus Gereja dan Papa Miskin PGPM, yang kegiatannya dipusatkan di Fort Willem I, yang merupakan rumah sakit militer terbesar saat itu. Tahun berikutnya, tepatnya pada tanggal 30 April 1860, keluarlah Surat Keputusan dari Uskup. Secara garis besar, isi dari Surat Keputusan tersebut adalah mengizinkan Pastor C. Franssen Pr untuk mendirikan gereja dan Pastori. Tetapi karena Beliau tidak lama bertugas di Ambarawa, izin tersebut tidak sempat dimanfaatkan. Pada tanggal 18 Agustus 1861, Pastor C. Franssen Pr mendapat tugas baru di Larantuka. Penggantinya adalah Pastor J. Sanders dari Larantuka. Namun demikian, karena menderita sakit, beliau juga tidak lama berkarya di Ambarawa. Pada tanggal 31 Mei 1862, Pastor Joannes F. van der Hagen SJ datang ke Ambarawa menggantikan pastor sebelumnya. Sejak saat itu, umat Katolik di Ambarawa mulai dilayani oleh Pastor-Pastor dari Serikat Yesus SJ. Pastor Joannes F. van der Hagen SJ berkarya di Ambarawa kurang lebih selama 5 tahun. Pada tahun 1865 Ambarawa memiliki umat Katolik sebanyak orang. Dari jumlah tersebut, orang diantaranya adalah dari militer. Dalam tahun itu pula tercatat ada pembabtisan sebanyak 88 orang. Pada tahun 1868, Pastor Joannes de Vries SJ datang ke Ambarawa dan menggantikan pastor sebelumnya. Beliau bertugas sampai tahun 1871. Dari tahun 1872 – 1879, Pastor Fransiscus de Bruijn SJ bertugas di Ambarawa. Beliau berangkat cuti ke negeri Belanda pada 10 November 1879. Kedudukannya digantikan oleh Pastor Joannes Hendrichs SJ sebagai pastor di Ambarawa. Pada tanggal 16 April 1881 Pastor Hendrichs menjalani cuti sakit dan Pastor Bruijn kembali dari cuti, Beliau berkarya lagi di Ambarawa sampai tahun 1900. Pada pertengahan tahun 1881, Ambarawa dilanda epidemi kolera yang hebat. Angka kematian umat meningkat drastis. Pastor de Bruijn bekerja keras berulang-ulang memberi Sakramen Minyak Suci, pernah dalam sehari sampai 13 kali. Pator ini menetap di Ambarawa hanya 2 minggu dalam sebulan, sisa waktu harus berkeliling ke Salatiga, Solo, Madiun dan kota-kota di sekitarnya. Ambarawa Sebagai Paroki Menurut “Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia” tahun 1993, halaman 178, Ambarawa mulai berstatus sebagai paroki pada tahun 1896. Memperhatikan Buku Pembabtisan yang disimpan di Gereja Santo Antonius Purbayan Surakarta, pada tanggal 29 Maret 1896 tercatat ada 17 babtisan di Bumi Ambarawa, terutama bayi. Pada saat itu Gembala yang melayani adalah Pastor F. de Bruijn SJ yang bekerja di Ambarawa selama 19 tahun 1872 – 1900. Ambarawa telah memiliki Pastor Kepala Pastor F. de Bruijn SJ yang telah bekerja di wilayah itu selama belasan tahun, oleh sejarah gereja, Ambarawa dinyatakan sebagai paroki. Setelah Pastor F. de Bruijn SJ meninggal, penggantinya adalah Pastor Mauritius Timmers SJ yang menjabat pastor di Ambarawa mulai 19 Desember 1900 sampai 1903. Kemudian selama satu tahun pastor Fredericus van Meurs SJ menjabat pastor di Ambarawa, yaitu pada tahun 1904. Mulai tahun 1905 jabatan pastor di Ambarawa dipegang oleh pastor Cornelius Stiphout SJ. Pastor Stiphout di Ambarawa memasuki pastoran baru. Ketika itu fondasi gereja baru sudah ditanamkan. Pada akhir tahun 1906 gereja baru diberkati. Sekarang gereja dan pastoran lama sudah beralih fungsi menjadi SD Pangudi Luhur Ambarawa. Llokasinya berhadapan tepat dengan terminal bus Ambarawa saat ini. Mulai tahun 1906 sampai tahun 1920 tidak ditemukan catatan-catatan mengenai perkembangan paroki Ambarawa, seperti tentang kemajuan di Muntilan, Mendut, Yogyakarta, dan di Flores, kecuali catatan mengenai pembabtisan, perkawinan, yang disimpan di gereja Santo Antonius Purbayan Surakarta. Baru pada tahun 1920 ada tertulis “Pada bulan November 1920, Normalschool yang kedua, yang diselenggarakan di Muntilan dipindahkan ke Ambarawa dengan Pastor Adrianus van Kalken sebagai direkturnya.” Inilah awal mula berdirinya St. Yosef College dan Ambarawa mempunyai pastor tetap lagi. Pembangunan gereja Santo Yusup Ambarawa yang sekarang ini Gereja Jago dimulai pada tahun 1923 di atas tanah yang sebagian besar sudah digunakan untuk Normalschool itu. Peletakan batu pertama terlaksana pada tanggal 27 Mei tahun itu. Pada tanggal 27 April 1924 gereja yang megah dan indah itu diberkati. Gereja yang dapat menampung umat sebanyak orang ini, statusnya sebagai gereja ataupun tempat ibadah bagi Normalschool Maria di Ambarawa untuk mendidik calon guru Katolik wanita. Orde Franciscanessen ini memiliki misi di Jawa Tengah sebagai pendukung perkembangan iman Katolik. Pada tanggal 15 September 1926, Mgr. van Velsen berkenan memberkati biara beserta bangunan Normalschool khusus untuk calon-calon guru wanita di Ambarawa. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 08 Juli 1928, Pastor van Kalken, memberkati gedung sekolah MULO dengan asrama milik Bruder OO, sekarang lebih terkenal dengan nama FIC. Satu tahun berikutnya, pada bulan Februari 1929, lembaga pendidikan dari Serikat Yesus di Ambarawa dinyatakan sebagai College. Dengan demikian pengembangan iman di Paroki Ambarawa didukung oleh sekolah-sekolah Katolik. Sarana pembinaan iman lainnya, seperti pengadaan makam untuk para imam, biarawan-biarawati, hingga umat Katolik, dimulai pada tahun 1931. Pada tahun ini, tanggal 19 Juli 1931, dilangsungkan pemberkatan kapel di Kerkhof, yang rancangannya disusun oleh Pastor van Kalken. Sebagian kerkhof untuk pemakaman pastor, sebelah kanan untuk para bruder dan di sebelah kiri untuk para suster. Sedang halaman luas disediakan untuk pemakaman umat Katolik Ambarawa. Setiap bulan sekali di kapel itu diselenggarakan misa kudus khusus untuk para arwah. Pada waktu itu yang menjabat rektor College St. Yusup adalah Pastor Leopoldus van Rijckevorsel SJ. Beliau bertugas dari tahun 1928 – 1936. Banyak yang dilakukan oleh pastor ini, diantaranya di Ungaran meletakkan batu pertama untuk gereja setempat pada tanggal 14 Agustus 1932. Tanahnya diperoleh dari sumbangan persembahan seorang ibu Katolik. Oleh beliau gereja tersebut diberkati pada tanggal 22 Januari 1933. Kegiatan lain yang dilakukan disamping pelayanan rutin, juga mengadakan retret tertutup untuk umat yang kurang mampu. Pada tanggal 01 Agustus 1940, diangkat seorang katekis yaitu Hieronimus Suparlan Prawirodirdjo oleh Pastor Hubertus Snijders SJ. Ia mulai menjadi warga paroki St. Yusup Ambarawa pada bulan Juli 1933 mengikuti RJ Djajaatmadja, guru Normalschool pindahan dari Muntilan. Pada waktu itu yang menjadi rektor college sekaligus sebagai pastor adalah Pastor Rijckevorsel SJ yang dibantu oleh Pastor Joannes ten Berge dan Frater Alfonsus Darmawijata serta para bruder dan suster. Bapak Hieronimus Suparlan kemudian dibina oleh Pastor Josephus Dieben SJ. Ia mulai menjalankan tugasnya mengajar agama di sekolah-sekolah Volkschool hingga berkembang sampai ke kampung-kampung. Pada waktu Jepang masuk Ambarawa, pastoran, bruderan dan susteran menjadi kosong. Para pastor, biarawan dan biarawati diinternir ditahan. Pelayanan rohani dilakukan oleh Bruder Woerjoatmadja dan Lalu datanglah Pastor Sutopanitro SJ di Ambarawa, yang kemudian disusul oleh pastor-pastor yang lain terutama setelah perang kemerdekaan. Pada saat itu umat Katolik di Ambarawa tinggal tersisa kira-kira 150 orang. Dengan adanya tempat peziarahan Gua Maria Kerep Ambarawa yang diawali pada tahun 1954, kemudian dikembangkan dan masih terus dikembangkan lagi oleh Keuskupan Agung Semarang, semakin menambah geliat kehidupan iman umat Katolik di Paroki Ambarawa. Acara novena minggu kedua terhadap Bunda Maria yang dimulai setiap bulan September dan diakhiri setiap bulan Mei, menarik pengunjung dari kota-kota lain. Hal ini membuat Paroki Ambarawa semakin banyak dikenal. Saat ini, Paroki Ambarawa memiliki KK, dengan ± jiwa. Jangkauan pelayanan meliputi 18 wilayah, 73 lingkungan di Kecamatan Ambarawa, Bandungan, Sumowono, Bawen, Jambu, dan Banyubiru. Pada hari Minggu, Paroki melayani 9 misa di Gereja dan kapel. Paroki memiliki 11 kapel di Tambakboyo, Bandungan, Banyubiru 2, Bawen 2, Brongkol, Gedong, Sumowono, Trayu, dan Bejalen. Kehadiran umat dalam Ekaristi harian dan mingguan, ibadat lingkungan, devosi, misa arwah, ziarah, tergolong tinggi. Jumlah umat yang hadir di gereja setiap minggunya sebanyak orang. Jumlah baptisan per tahun rata-rata 100 orang.
jadwal misa gereja kerep ambarawa